Kedua, kunjungan tersebut akan berlangsung tidak lama setelah Xi bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada bulan ini. Kedua pertemuan itu, dengan cara yang berbeda, kembali menempatkan Pyongyang dalam sorotan diplomatik internasional.
Ketiga, lawatan ini juga akan terjadi tidak lama setelah Kim Jong Un berkunjung ke China pada September tahun lalu untuk menghadiri parade militer memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II. Dalam kesempatan tersebut, Kim juga bertemu dengan Xi.
Xi terakhir kali mengunjungi Korut pada 2019. Dalam lawatan tersebut, ia bertemu dengan Kim Jong Un dan mendapat sambutan penuh kehormatan militer, yang menunjukkan besarnya arti politik kunjungan itu bagi Pyongyang.
Para analis menilai kunjungan Xi ke Pyongyang akan menjadi sinyal bahwa Beijing ingin menegaskan kembali pengaruhnya atas Korut dan kawasan Semenanjung Korea secara lebih luas.
Hao Nan, peneliti spesialis Semenanjung Korea di National Committee on American Foreign Policy (NCAFP) yang berbasis di New York, mengatakan kepada CNA bahwa kunjungan tersebut juga akan menunjukkan bahwa China tetap menjadi pihak yang tak tergantikan dalam pengelolaan keamanan Asia Timur Laut.
Menurutnya, Beijing ingin mengirim pesan kepada Korea Selatan, Jepang, Rusia, dan Amerika Serikat bahwa Korut masih berada dalam lingkup strategis China, meski hubungan Pyongyang dan Moskow semakin erat.
Di saat yang sama, kata Hao, China akan berupaya meyakinkan Korut sekaligus memberi sinyal peringatan kepada Washington dan sekutunya, tanpa secara terbuka membentuk poros China–Korut–Rusia.
KUNJUNGAN SARAT MAKNA SIMBOLIS
Menurut laporan TIME yang terbit pada 20 Mei, mengutip sumber anonim, Xi diperkirakan akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Korut paling cepat pada pekan terakhir Mei. Hingga awal Juni, kunjungan tersebut belum terlaksana.
Namun laporan NK News menyebutkan bahwa pesawat kargo milik maskapai Air China terlihat menuju Pyongyang di tengah kabar kunjungan Xi ke Korut. Tidak diketahui apa tujuan penerbangan tersebut.
Salah satu sumber yang mengetahui persiapan kunjungan mengatakan, China dan Korut akan meningkatkan koordinasi untuk menghadapi apa yang mereka sebut sebagai “militerisme baru Jepang”, di tengah kekhawatiran Beijing terhadap arah kebijakan keamanan Jepang di bawah Perdana Menteri Sanae Takaichi.

